Baru-baru ini, ramai sebuah pembahasan di Indonesia terkait salah satu ekosistem blockchain besutan Changpeng Zhao, yakni Binance. Beberapa artikel pun sampai mengatakan bahwa investasi Binance bodong. Tentu saja, rencana investasi jadi buyar ketika mendengar informasi ini.

“Kok bisa begitu?”
“Apa benar Binance Bodong?” 

Kali ini Tahu Blockchain akan mengulik satu persatu tentang Binance dan mengapa sampai bisa dikatakan Binance Bodong.

*Disclaimer, ini merupakan opini penulis. Bukan sebagai bentuk kepastian maupun fakta.

Kalau kamu searching di Mbah Google, istilah Bodong itu mengarah pada bentuk pusar yang tidak normal yaitu menonjol ke luar.

“Eittss.. tapi kita mau bahasa bodong yang lain min!”

Oke-oke, mari kita balik ke topik. Dirangkum dari berbagai sumber, istilah bodong kerap kali dikaitkan dengan salah satu bentuk penipuan, seperti dalam bentuk investasi.

Bodong juga kerap kali dikaitkan dengan bentuk yang tidak jelas sumbernya, kepalsuan, tipu daya, tidak berijin dan ada juga ilegal.

Namun, istilah Bodong lebih banyak dipakai untuk sesuatu yang bersifat penipuan, alias tidak jelas sumbernya dari mana, bagaimana keuntungannya didapat dan bahkan bersifat merugikan bagi pengikutnya.

Jika Ilegal, jarang sekali menggunakan istilah bodong karena yang ilegal lebih pas untuk kata tidak memiliki izin, atau tak berizin.

Terkadang, yang tak berizin tidak serta merta bodong. Bisa jadi mereka memiliki alur yang tersusun, namun masih belum mendaftarkan sebuah izin pada pihak atau instansi yang bersangkutan.

Tampilan Situs Binance - Tahu Blockchain
Tampilan Situs Binance.

Balik ke topik, Binance sendiri sudah lama dikenal oleh hampir semua pemegang aset kripto sebagai marketplace atau bursa pertukaran mata uang kripto terbesar nomor 1 di dunia perkriptoan.

Didirikan sejak tahun 2017, platform Binance, yang terkenal dengan istilah Binance.com ini pun terus berkembang dan semakin besar.

Bahkan pada tahun 2019 Binance meluncurkan lagi platform bursa khusus bagi pengguna di Amerika serikat bernama Binance.US yang dioperasikan oleh Layanan Perdagangan BAM yang berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat.

Jika kamu telusur dari situs pelacakan grafik mata uang kripto seperti coinmarketcap maupun coingecko, rata-rata volume perdagangan harian pada bursa Binance bisa sampai sekitar Rp.2.000.000.000.000.000,- atau trilyunan Rupiah loh!

Bisa dibayangkan berapa banyak pengguna aktif yang berdagang dalam bursa Binance.

Selain Bursa, Binance juga memiliki ekosistem blockchain bernama Binance Chain pada April 2019 dengan koin kripto bernama BNB yang saat ini meraih posisi top ranking 5 besar mata uang kripto dunia.

Dengan hadirnya ekosistem blockchain Binance, otomatis Binance juga memiliki bursa desentralisasi atau DEX bernama Binance DEX. Tak main-main, volume perdagangan harian pada Binance DEX bisa dibilang tidak sedikit. Rata-rata perdagangan bisa mencapai puluhan miliar Rupiah per harinya.

BNB Ranking Coinmarketcap - Tahu Blockchain
Coin Binance, BNB posisi 3 besar bulan Mei 2021
Kalau dilihat dari rekam jejak Binance, sepertinya akan sangat berat untuk mengakui bahwa Binance merupakan investasi Bodong. Lalu kok bisa di Indonesia Binance dianggap sebagai Bodong?

Ini semua berawal ketika Satgas Waspada Investasi yang diketuai oleh Tongam L Tobing megumumkan siaran pers tentang investasi ilegal pada tanggal 27 Oktober 2020.

Siaran Pers Satgas Waspada Investasi - Tahu Blockchain
Isi siaran pers Satgas Waspada Investasi

Dalam isi siaran pers tersebut, SWI juga melampirkan daftar entitas yang termasuk dalam kategori ilegal. Tentu saja, salah satunya yang sedang kita bicarakan ini.

Untuk melihat langsung sumber siaran pers SWI, kamu bisa klik link disini yang berisi informasi lengkap serta dokumen lampiran daftar entitas dalam bentuk file PDF.

Mengenai Binance, data dapat dilihat dan unduh pada dokumen PDF dengan judul LAMPIRAN 154 ENTITAS ILEGAL OKTOBER 2020.PDF.

Jika kamu perhatikan, pada urutan ke 10, Binance dengan alamat https://binance.zendesk.com/ dan https://www.binance.com/en; menjadi kegiatan usaha yang hentikan dengan alasan digital asset exchanger tanpa izin.

SWI Binance - Tahu Blockchain
Tampilan lampiran SWI Oktober 2020

Jadi bisa disimpulkan bahwa Binance yang dipermasalahkan disini adalah lebih pada bursa perdagangan kripto Binance global, bukan mata uang kripto Binance Coin (BNB)

Padahal, jauh sebelum siaran pers ini dirilis, Binance mengumumkan melakukan pendanaan investasi pada salah satu bursa kripto pertama yang teregulasi di Indonesia bernama Tokocrypto, dilansir dari siaran pers resmi Binance pada tanggal 12 Mei 2020.

Co-Founder sekaligus CEO Tokocrypto, Pang Xue Kai, mengatakan bahwa

“Investasi dari Binance di Tokocrypto menjadi penegasan akan kepercayaan dari pemimpin pasar aset kripto secara global terhadap potensi blockchain ekosistem di Indonesia yang sangat menjanjikan. Investasi ini akan digunakan untuk menghadirkan dan meningkatkan layanan terbaik dari Tokocrypto di pasar Indonesia, serta mempercepat visi kami dalam menghadirkan ekosistem keuangan terbuka melalui teknologi blockchain.”

PENUTUP

Kalau dari hasil riset Tahu Blockchain, sungguh agak membingungkan jika Binance sampai ditulis sebagai bentuk investasi bodong.
Mengikuti siaran pers, kata Investasi menjadi sangat ambigu mengingat Binance yang masuk kategori merupakan bursa. Lebih cocok dikatakan, jangan berdagang di bursa Binance.

Selain itu, istilah bodong sudah sangat merusak nama baik Binance itu sendiri. Bagaimana tidak, kok bisa-bisanya sebuah perusahaan bodong mendanai sebuah perusahaan resmi?

Sebenarnya yang paling tepat adalah platform bursa Binance belum memiliki izin untuk berdagang di Indonesia. Imbasnya, akun website bursa Binance terblokir jika kita menelusurinya menggunakan jaringan provider Indonesia.

Mengenai artikel berita yang sangat bombastis tersebut, memang sangat disayangkan bisa terjadi. Apalagi artikel tersebut ditulis dan dipublikasikan pada sebuah platform berita nasional yang jumlah pengunjungnya juga tidak sedikit.

Kalau beralasan istilah clickbait, ya setidaknya isi artikelnya jangan clickbait juga. Itu sama saja menggiring opini yang tidak diinginkan bagi pembaca berita yang awam apalagi yang tidak tahu sama sekali.

Jadi, bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah pusing membaca artikel ini? Atau justru semakin penasaran dengan dunia blockchain dan cryptocurrency?

Kamu bisa beristirahat sejenak, berkumpul bersama orang–orang terdekat, dan jika masih ada waktu, bisa kembali membaca artikel ini.

Kamu juga bisa bagikan artikel ini kepada orang–orang terdekatmu, agar lebih banyak orang tahu tentang blockchain dan cryptocurrency.

Salam Tahu Blockchain.