Mata uang kripto Bitcoin juga disebut oleh sebagian orang sebagai emas digital. Bagaimana tidak? salah satu cara untuk mendapatkan Bitcoin adalah dengan cara menambang atau bisa disebut juga dengan istilah mining, baik secara lokal maupun cloud.

Para penambang adalah mereka yang mendedikasikan sumber daya komputer mereka sebagai wadah untuk memecahkan persoalan matematis pada Bitcoin melalui perhitungan yang begitu kompleks.

Penambang yang dimaksud pada awalnya mungkin hanya seseorang dengan komputer rumahan yang mereka miliki. Namun saat ini, proses penambangan Bitcoin sudah sangat langka jika hanya menggunakan satu komputer lokal saja. Penambangan Bitcoin saat ini sudah melalui perangkat yang dirancang khusus, besar, dan dilakukan secara kolektif (disebut node).

Setiap 10 menit, sistem Bitcoin akan menganugerahkan sejumlah unit bitcoin (25 BTC, misalnya) pada salah satu node penambang ini. Jumlah yang ditambang per 10 menit akan turun seiring waktu, hingga habis pada, kurang lebih, tahun 2140.

“Maksudnya?”

Jadi, sang pencipta Bitcoin, Sathosi Nakamoto hanya menciptakan total 21 juta unit Bitcoin di dunia ini, dan sudah diatur bahwa Bitcoin akan habis tertambang kurang lebih pada tahun 2140.

Hal ini dilakukan supaya menjaga nilai dan harga pada mata uang kripto Bitcoin. Dengan demikian juga ada harapan di masa depan harga Bitcoin akan terus naik seiring dengan pasokan yang langka dan pengguna yang semakin banyak

Sekilas mengenai hukum ekonomi permintaan dan penawaran, jika permintaan akan barang tinggi dan penawarannya rendah, maka harga barang akan naik. Sebaliknya jika permintaan akan barang rendah tapi penawarannya tinggi, maka harga barang akan turun.

Oleh karena itu, semakin banyak orang yang menambang atau memiliki Bitcoin, maka stok akan menipis karena terbatas 21 juta Bitcoin saja. Padahal, permintaan untuk memiliki Bitcoin sendiri semakin hari semakin banyak.

Buat kamu yang ingin mencoba untuk menambang Bitcoin, tersedia dua pilihan metode yakni, mining lokal dan cloud mining.

Apa bedanya?

Metode Lokal

Kalau dengan cara mining lokal, kamu wajb memiliki alat tambang khusus seperti Antminer dan atau perangkat pc dengan kartu grafis yang sangat gahar.

“Buat apa?”

Karena semakin besar kemampuan komputer kamu untuk menambang, maka hasil yang akan kamu dapatkan semakin banyak dengan lebih cepat dari yang hanya memiliki komputer dengan kemampuan menambang yang rendah.

Kelemahan dari mining lokal adalah modalnya tidak sedikit.

Belum lagi biaya listrik, karena ketika kamu menambang dengan metode ini, komputer harus dalam keadaan terus menyala. Otomatis, listrik harus terus berjalan.

Keuntungan dari mining lokal, kamu akan bebas dari yang namanya SCAM, alias tipu – tipu.

Dengan mining lokal, kamu tidak memerlukan pihak perantara untuk menambang Bitcoin. Semuanya yang atur adalah kamu sendiri. Tentu saja, kamu tak ingin kan menipu penambanganmu sendiri?

Selain itu, seberapa besar pun jumlah yang kamu dapatkan, semuanya adalah milikmu. Jadi semakin bagus alat tambangnya, kamu berkesempatan mempunyai banyak Bitcoin dari hasil menambang.

Metode Cloud

Nah, cara lainnya adalah dengan cloud mining. Berbeda dengan metode sebelumnya, pada metode ini kamu hanya perlu mengunjungi situs penyedia jasa mining.

Jadi tidak perlu repot–repot mengeluarkan uang untuk membeli alat tambang lagi. kamu cukup membeli sesuai paket alat tambang yang sudah disediakan oleh pihak penyedia cloud mining dan akan berpengaruh juga padaa kecepatan menambang Bitcoin kamu.

Rata–rata kecepatan yang diberikan memiliki satuan berupa GH/s. Jika bingung, coba samakan satuan itu dengan satuan KB, MB, GB, TB di ukuran kapasitas memori penyimpanan. Lalu ganti saja “B”-nya dengan “H/s”.

Kelemahan dari metode cloud mining, adalah RAWAN SCAM, alias rawan kena tipu–tipu.

Jadi, kamu harus jeli menganalisa platfrom yang akan kamu gunakan sebagai tempat cloud mining. Cek riwayat platform tersebut, dimana mereka menaruh alat tambang nya, dan bagaimana komunitasnya.

Selain itu, metode cloud mining juga rawan bangkrut atau tiba-tiba tutup. Jadi tidak ada alasan kamu bebas meninggalkan platform tanpa melakukan pengecekan rutin pada platform cloud mining-mu.

Jangan sampai terjadi, setelah kamu beli, kamu jarang membuka platformnya untuk melakukan pengecekan. Itupun baru dibuka beberapa tahun kemudian dan, tau-tau, ternyata platformnya sudah tutup karena bangkrut.

Keuntungan dari metode cloud mining, yang jelas biaya tidak terlalu mahal.

Kamu juga tidak perlu beli alat sama khawatir biaya listrik lagi. Karena, ketika kamu tinggal offline platformnya, proses menambang akan terus berjalan.

Kamu hanya perlu mendepositkan kecepatan menambang dari paket yang kamu beli supaya mendapatkan hasil tambang yang banyak dan lebih cepat dari biasanya. Tidak perlu harus sampai rebutan beli kartu grafis sama gamer kan?

Mau kamu memilih metode mining lokal maupun cloud mining, kamu harus paham dulu bagaimana cara Bitcoin didapatkan dari hasil menambang. Jangan asal main tambang-tambang saja ya. Bisa-bisa, bukan keuntungan yang kamu dapat, malah kerugian dan bahkan belum tentu dapat Bitcoin meski sudah mencoba untuk menambang. (TB)