Beda Desentralisasi dan Sentralisasi - Tahu Blockchain com
Ketika berhubungan dengan teknologi Blockchain, anda tentu pernah mendengar, baik secara langsung maupun tidak, kata seperti “Decentralized” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Desentralisasi”. Lalu apa itu Decentralized?

Sederhananya, Decentralized (selanjutnya: Desentralisasi) adalah sebuah jaringan yang tidak terpusat, alias tidak ada satu jaringan pun yang menjadi pusat dan memiliki otorisasi. Jadi, setiap jaringan pada sistem desentralisasi memiliki fungsi yang sama antar jaringan.

Sistem desentralisasi akan terus menempel ketika kita membahas blockchain, karena teknologi blockchain memang mengunggulkan sistem terdesentralisasi dalam sebuah jaringan internet.

Jika anda menyadari kasus seperti:
  • Peretasan yang terjadi di dunia internet, 
  • Salah satu perusahaan internet melakukan penjualan data kepada pihak tertentu, 
  • Sistem monetisasi dan pemasangan iklan saat ini, serta
  • Ketidakcocokan data antar setiap instansi berbeda.
    beberapa hal yang disebutkan di atas disebabkan karena sistem data yang diolah dan disimpan masih dalam satu jaringan terpusat atau tersentralisasi.

    Dengan jaringan yang tersentralisasi, maka pusat data hanya satu, dan semua jaringannya hanya sebagai jaringan – jaringan cabang yang tidak memiliki otorisasi dan akses keputusan sendiri, karena semua tergantung pada pusatnya.

    Oleh karena itu, wajar teknologi blockchain hadir untuk merevolusi dunia perdataan di lingkungan internet ini. Berikut Tahu Blockchain mencoba menjelaskan perbedaan – perbedaan antara Desentralisasi dan Sentralisasi

    Kasus Peretasan / Hacking

    Berbicara mengenai sentralisasi anggap saja anda pemilik perusahaan pengolah kedelai. Anda cuma punya satu mesin, satu karung kedelai, dan satu drum bahan bakar. 

    Kemudian, berbicara mengenai desentralisasi, anggap saja anda pemilik perusahaan pengolah kedelai. Anda memiliki lebih dari satu mesin (anggap saja 2), satu karung kedelai, dan satu drum bahan bakar.

    Dari dua kasus diatas, tentu anda akan lebih mudah membedakannya. Ketika anda adalah perusahaan pengolah tahu yang ter-sentralisasi, ketika suatu saat mesin anda rusak, anda harus berhenti beroperasi karena tidak ada cadangan mesin untuk mengolah.

    Berbeda dengan perusahaan pengolah tahu yang ter-desentralisasi, ketika suatu saat mesin anda rusak, anda masih memiliki mesin lain yang akan terus melanjutkan operasi, karena fungsi mesin kedua anda sama seperti mesin pertama.

    Dalam blockchain, setiap jaringan (node) yang terhubung memiliki fungsi yang sama. Jadi suatu ketika salah satu jaringan terkena peretasan, atau terjadi kerusakan karena faktor tertentu (seperti bencana alam, human error, dll) jaringan lain masih dapat berfungsi.

    Penjualan Data, Sistem Monetisasi, dan Pemasangan Iklan Internet

    Kalau anda masih ingat atau mungkin belum pernah mendengar, Perusahaan sosial media Facebook sempat menjadi topik perbincangan karena kasus penjualan data pribadi pengguna kepada pihak tertentu.

    Lalu, pernahkah anda bertanya – tanya (terutama untuk yang pernah melakukan pemasangan iklan) kenapa ketika anda selesai membuka suatu produk, tiba – tiba ada produk iklan yang persis seperti yang anda buka sebelumnya, muncul di setiap halaman yang anda kunjungi di internet?

    Tentu saja hal ini disebabkan oleh terpusatnya data – data (seperti data – data pribadi anda) dalam satu jaringan. Dengan sistem sentralisasi seperti ini, Jaringan pusat akan dapat menggunakan data anda untuk keperluan – keperluan seperti monetisasi, dll.

    Memang tidak semuanya bertindak seburuk itu. Tapi, kemungkinan – kemungkinan seperti itu pasti akan ada meskipun pelanggan mereka telah diyakinkan dengan kebijakan – kebijakan atau syarat dan ketentuan.

    Dengan sistem yang ter-desentralisasi, Data yang anda tulis, yang anda ciptakan, yang anda berikan adalah sepenuhnya milik anda. Andalah yang punya otorisasi, selama anda memiliki private key atau kunci rahasia akun anda

    (selengkapnya tentang private key)

    Meskipun ada jaringan (node) yang merekam datanya, tapi mereka tidak memiliki akses untuk mengelola data yang anda miliki. 

    Oleh sebab itu, data anda tidak bisa seenaknya “dicuri” atau “dijual” oleh siapapun, bahkan oleh jaringan yang bertugas mencatatkan data anda ke dalam jaringan blockchain sekalipun.

    Ada beberapa perusahaan yang menggunakan sistem blockchain, seperti perusahaan sosial media salah satunya, yang memberikan kesempatan kepada penggunanya untuk memilih opsi menjual data mereka atau tidak, dan anda sebagai pengguna akan mendapatkan royalti ketika anda memilih untuk menjual data anda.

    Ketidakcocokan data antar jaringan

    Kalau anda pernah belajar atau kuliah jurusan ekonomi, tentu anda tidak asing dengan yang namanya “rekonsiliasi” yang kurang lebih mencocokkan antara perbedaan data dari bank maupun perusahaan

    Atau, jika anda pernah melihat berita dimana ada ketidakcocokan antara data survey A dengan B, ketidakcocokan antara hasil data A dan B, dan ketidakcocokan data lainnya yang pada akhirnya menimbulkan pertentangan dan keraguan.

    Ini merupakan salah satu bentuk dari sistem yang ter-sentralisasi. Ketika ada jaringan lain yang berbeda, maka perlu adanya kecocokan supaya antar kedua jaringan menjadi sama. Untuk beberapa kasus ini tentu memakan waktu dan biaya.

    Berbeda dengan sistem yang ter-desentralisasi, setiap jaringan, meskipun memiliki fungsi otorisasi yang sendiri – sendiri, tetap akan memiliki data yang sama antar jaringan.

    Teknologi blockchain dapat melakukan ini, karena blockchain adalah sistem ter-desentralisasi.

    Sederhananya begini, ada dua jaringan yakni A dan B. Ketika jaringan A melakukan pencatatan dan enkripsi pertama ke dalam jaringan blockchain, maka jaringan B akan mendapatkan salinan untuk pencatatan dan enkripsi pertama juga, meskipun jaringan B bukanlah yang melakukan pencatatan.

    begitu juga ketika untuk pencatatan kedua, jaringan B tidak akan bisa melakukannya ketika jaringan B belum mendapatkan salinan dari pencatatan pertama jika suatu saat nanti jaringan B mendapatkan giliran untuk melakukan pencatatan.

    Ketika jaringan B sudah mendapat salinan pencatatan pertama, dan kemudian melakukan pencatatan kedua, maka salinan pencatatan kedua akan dikirimkan juga ke jaringan A, atau nama lainnya disebut dengan “sinkronisasi”.

    Begitu juga, ketika suatu saat ada jaringan baru, Jaringan C ingin melakukan pencatatan, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan sinkronisasi data dari jaringan mayoritas (jaringan A dan jaringan B) sebelum melakukan pencatatan berikutnya.

    Dengan sistem seperti ini, tentu tidak akan terjadi lagi yang namanya ketidaksesuaian data antar jaringan, selama jaringan – jaringan itu sama dalam satu sistem ter-desentralisasi.

    Walaupun begitu, tidak semua jaringan pada produk blockchain sinkron dengan jaringan pada produk blockchain lainnya. Misal jaringan pada Bitcoin tentu tidak akan sama dengan jaringan pada Ethereum, begitu juga dengan lainnya.

    Tapi cara kerja pada jaringan – jaringan yang ada di Bitcoin  akan sama persis seperti contoh kasus diatas (Jaringan A, B, dan C). begitu juga dengan cara kerja jaringan – jaringan yang ada di produk Blockchain lainnya seperti Ethereum, Ripple, Stellar, dll.

    Contoh kasus diatas juga bisa disamakan dengan sistem smart contract yang ada pada jaringan Ethereum. seperti anggap saja jaringan A adalah Ethereum, jaringan B adalah Binance Token, dan jaringan C adalah Pundi X Token, atau token – token smart contract lainnya.

    setiap jaringan memiliki fungsi transaksi sendiri – sendiri, tapi ketika mereka melibatkan jaringan Ethereum untuk hal seperti biaya transaksi dan pemindahan saldo, maka antar jaringan akan secara otomatis melakukan pensinkronisasian.

    (selengkapnya tentang token smart contract)

    Begitulah lebih kurangnya tentang apa itu desentralisasi dan perbedaannya dengan sistem sentralisasi. Mengingat tulisan ini sudah terlalu panjang, ada baiknya anda bisa istirahat sejenak sambil melakukan aktivitas lain bersama orang disekitar anda.