Berbicara cryptocurrency atau mata uang kripto, rasanya kurang nambah ilmunya kalau hanya tahu Bitcoin saja. Atau, kamu sendiri justru belum tahu Bitcoin? Kalau belum, kamu bisa mengunjungi artikel Tahu Blockchain lainnya yang berjudul Apa itu Bitcoin? Karena, disini kita akan “menyebrang” untuk mengenal seputar teknologi blockchain dan cryptocurrency bernama Ethereum.

APA ITU ETHEREUM?

Sama halnya dengan Bitcoin, Ethereum merupakan salah satu platform yang menggunakan teknologi desentralisasi blockchain sebagai ekosistem yang bernaung di dalamnya. Ethereum diklaim oleh sebagian orang sebagai revolusi ke dua (2.0) dalam teknologi blockchain dan cryptocurrency

“MENGAPA BISA SEPERTI ITU?”

Cryptocurrency yang dikenal oleh sebagian orang adalah sebuah teknologi peer-to-peer tanpa perantara pihak ke tiga yang fungsinya hanya sebagai transaksi perpindahan mata uang kripto dari pihak A menuju pihak B, layaknya yang dilakukan oleh Bitcoin. Dengan kemunculan Ethereum, transaksi tidak hanya sebatas itu saja.

Ethereum setingkat lebih maju dengan adanya kemampuan smart contract (kontrak pintar), sehingga penggunaan cryptocurrency menjadi lebih meluas. Namun, sebelum lebih jauh mengulas tentang smart contract, ada baiknya kita mengetahui sejarah Ethereum terlebih dahulu.

SEJARAH ETHEREUM

Semua berawal ketika seorang pemuda putus sekolah berusia 21 tahun, saat itu, mempublikasikan gagasannya yang tertuang dalam whitepaper di tahun 2013. Pemuda itu bernama Vitalik Buterin.

Kemudian, gagasan itu pun terealisasi di Tahun 2014 dimana Vitalik mengadakan Penawaran Koin Awal (Initial Coin Offering/ICO) yang mana juga sebagai cikal bakal ICO pertama di dunia dan sebagai pelopor ICO.

Dibawah naungan Ethereum Foundation, pada tanggal 22 Juli 2014 melakukan ICO untuk cryptocurrency-nya, yang bernama Ether (ETH), hingga berakhir pada tanggal 2 September 2014. Harga penjualan ETH pada saat itu adalah 1 ETH = $0,31 USD atau sekitar Rp.4.000,-an.

Mulai sejak itu, proyek Ethereum terus berkembang dan hadir membawa terobosan baru dalam dunia desentralisasi blockchain. Ethereum hadir dengan membawa, mulai dari, teknologi smart contract, ICO, hingga aplikasi desentralisasi (DApp). Ini sesuai dengan visi misinya yang mana menjadikan Ethereum sebagai “World Computer” atau Komputer Dunia.

ETHEREUM DAN VISI KOMPUTER DUNIA

Cukup sulit menjelaskan definisi Komputer Dunia sebenarnya. Namun secara lebih mudah, mari kita bahas dari awal tentang sejarah munculnya internet.

Jika kamu berseluncur di internet seperti membuka media sosial, berbelanja online, pemesanan paket dan antar jemput online, hingga melakukan penyimpanan data pribadi termasuk sandi, Sadar tidak, bahwa sebenarnya semua data itu sebagian besar disimpan di komputer milik orang lain. 

“LOH, MAKSUDNYA?”

Contoh lainnya, jika kamu memiliki sebuah perangkat seperti komputer/laptop/smartphone, lalu kamu simpan data, entah berupa video/file/dokumen/dll di perangkat milik sendiri tanpa koneksi internet sama sekali, maka datamu akan selalu berada di perangkatmu. Jadi, meski tanpa internet pun, kamu masih bisa mengaksesnya tanpa kesulitan.

Kembali lagi, maka jika di internet, semua data yang telah kamu kirim atau unggah ke internet sebenarnya disimpan kedalam jaringan komputer milik orang lain. Istilah ini juga dinamakan sebagai sistem “Cloud server” atau server awan.

Cloud server ini, dikendalikan oleh perusahaan–perusahaan seperti Amazon, Alibaba, Facebook, Google dan lain lain, tergantung dimana anda mengirim atau mengunggah data anda. Sebenarnya, tidak ada yang janggal jika kita bahas sampai disini saja. Kejanggalan itu akan terjadi ketika kita mempertanyakan:

“BAGAIMANA PERLAKUAN DATA KITA OLEH MEREKA?”

Mereka menyimpan data kita dan di dalam kendali sistem terpusat (sentralisasi), sehingga mereka bisa saja mengakses data pribadi tanpa sepengetahuanmu, dan yang lebih parah adalah menyalahgunakan data pribadimu sebagai ladang uang untuk mereka.

Dengan hadirnya Ethereum, maksud dari definisi sebagai Komputer Dunia adalah ingin menjadikan semua orang di seluruh dunia mau menyumbangkan server komputernya sebagai tempat untuk menjalankan node (simpul jaringan) sehingga menciptakan server yang terdesentralisasi dimana tidak ada satu pihak pun yang menguasai sebuah server.

Tentu saja, data didalamnya telah terenkripsi terlebih dahulu. Jadi, meskipun data kita berada di server komputer orang lain, mereka tidak memiliki hak akses untuk mengontrol data anda, karena sistem desentralisasi dan enkripsi dalam data anda.

Ethereum awalnya berjalan pada sistem konsensus Proof of Work (PoW) bagi para validator (miner), untuk memvalidasi serta mengamankan alur transaksi. Mereka akan mendapat imbalan berupa ETH jika berhasil melakukan tugasnya hingga berhasil tercatat dalam sebuah blok pada ekosistem blockchain Ethereum.

Kurang lebih sama seperti proses kerja Bitcoin. Namun mengingat sumber daya yang mahal dan faktor efisensi lingkungan, Ethereum perlahan mulai beralih menuju sistem Proof of Stake (PoS) atau bukti kepemilikan, dimana sejumlah miner yang memiliki beberapa jumlah ETH tertentu memiliki kesempatan untuk mengamankan jaringan. Metode konsensus ini diklaim cukup hemat lingkungan.

Singkatnya, Ethereum ingin menjadikan orang tetap memiliki kontrol atas data pribadi yang mereka kirim atau unggah ke internet, dan miner hanya bertugas untuk memvalidasi dan mengamankan jaringan blockchain Ethereum.

LAHIRNYA SMART CONTRACT BERBASIS BLOCKCHAIN

Apa itu Smart Contract

Smart contract (Kontrak Pintar) pada ekosistem blockchain Ethereum adalah sebuah revolusi baru pada inovasi blockchain.

Smart contract berfungsi sebagai sebuah perintah otomatis yang berisi kesepakatan atau perjanjian, yang kemudian disusun menjadi sebuah kontrak pintar yang tidak dapat dimanipulasi oleh pihak manapun, termasuk oleh si pembuat smart contract itu sendiri.

Salah satu penggunaan smart contract adalah sebagai sarana penggalangan dana dan pencetakan token. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Ethereum dengan ETH-nya saat melakukan ICO.

Dengan smart contract, seseorang atau kelompok bisa membuat kontrak perjanjian khusus sehingga orang bisa melakukan transaksi secara otomatis diatas kontrak pintar tersebut.

Untuk lebih lengkap memahami apa itu smart contract, anda bisa mengunjungi artikel berjudul Apa Itu Smart Contract?

LAHIRNYA KONSEP APLIKASI TERDESENTRALISASI (DAPP)

Apa itu Decentralized App

Visi Ethereum tentang Komputer Dunia, juga melahirkan sebuah konsep aplikasi yang terdesentralisasi, dimana tidak ada satu entitas pun yang dapat mengendalikan data pengguna, selain pemilik data itu sendiri, tentunya di dukung oleh smart contract.

Jika diibaratkan Ethereum sama dengan Google, Ethereum DApp store merupakan Google Playstore-nya. Perbedaannya, terletak pada aplikasi yang berada di bawah gudang data Google saat ini masih dalam satu kendali terpusat (sentral), dan belum tentu sesama aplikasi di play store terkoneksi satu sama lain.

Contohnya, di play store, ketika kamu mendaftar di aplikasi A milik Perusahaan A, lalu mencantumkan seluruh informasi pribadimu. Namun, ketika kamu mendaftar aplikasi B milik perusahaan B, belum tentu informasimu sudah ada sehingga harus mengisi lagi informasimu dari awal.

Meskipun ada opsi mendaftar melalui akun aplikasi A (juga dikenal sebagai metode single sign on), tidak berarti semua datamu akan sama, justru ada beberapa hal yang harus kamu tambahkan ketika mendaftar di aplikasi B supaya profilmu menjadi lengkap.

Dengan konsep aplikasi terdesentralisasi (DApp), setelah kamu mendaftar, kamu bisa menggunakan aplikasi lainnya tanpa harus daftar ulang. Dengan syarat selama masih dalam satu jaringan ekosistem blockchainmisal ekosistem blockchain Ethereum.

Untuk lebih detail mengenai DApp dan penggunaannya, kamu bisa mengunjungi artikel berjudul Apa itu Decentralized Apps?

POSISI DAN NILAI ETHER PADA EKOSISTEM ETHEREUM

Apa itu Gas Gwei Ethereum

Setiap transaksi yang berjalan pada ekosistem blockchain Ethereum, baik pada smart contract maupun DApp, memerlukan Ether sebagai bahan bakar atau biayanya. Dalam artian, Ether (ETH) digunakan sebagai pembayaran atas setiap transaksi yang berjalan di dalam ekosistem blockchain Ethereum.

Bahan bakar ini juga dinamakan sebagai GAS. GAS pada ekosistem blockchain Ethereum mengacu pada unit yang mengukur seberapa cepat bahan bakar yang digunakan untuk melakukan sebuah transaksi.

GAS juga bisa diartikan sebagai insentif kepada penambang yang membantu memvalidasi serta mengamankan transaksi pengguna pada ekosistem blockchain Ethereum. GAS diukur dalam satuan GWEI, dimana 1 ETH = 1.000.000.000 GWEI (satu miliar ETH).

Untuk lebih lengkap mengenai GAS dan perhitungannya, kamu bisa mengunjungi artikel berjudul Apa itu GAS, GWEI Pada Ethereum?

LAHIRNYA KONSEP TOKENISASI BLOCKCHAIN

Perbedaan Token ERC20 Dan ERC721 Pada Ethereum

Dengan kemunculan Ethereum, pandangan mengenai cryptocurrency juga menjadi semakin luas. Selama ini, satu jenis blockchain hanya memiliki 1 jenis mata uang. Seperti blockchain Bitcoin yang hanya memiliki Bitcoin pada jaringannya.

Ethereum dengan konsep smart contract dan DApp, menjadikan Ethereum sebagai pelopor platform untuk menciptakan berbagai macam token, melakukan tokenisasi atas sebuah aset, dan semua hal tentang token.

Sederhananya, seseorang maupun sekelompok/organisasi/institusi bisa menciptakan token mereka sendiri di atas ekosistem blockchain Ethereum, tanpa harus membuat ekosistem blockchain sendiri.

Token yang mereka ciptakan bisa bebas fungsi dan kegunaannya sesuai dengan kehendak pihak yang menciptakan token tersebut.

Beberapa aspek penciptaan token adalah sebagai berikut:

  • Menciptakan berapa total suplai tokennya
  • Menciptakan nama sendiri untuk tokennya.
  • Menambahkan fungsi smart contract tambahan pada tokennya, dll

Meskipun token ini memiliki beberapa porsi khusus, namun selama mereka dibuat dalam ekosistem blockchain Ethereum, maka token tersebut wajib menggunakan GAS sebagai bahan bakar untuk segala macam transaksi yang terjadi pada token itu.

Dalam artian mudahnya, apapun macam token yang di ciptakan atau miliki di dalam jaringan blockchain Ethereum, kamu wajib memiliki ETH sebagai syarat berjalannya transaksi atas token yang kamu miliki. Tentu saja, hal ini akan menambah fungsi ETH sebagai mata uang utama pada ekosistem blockchain Ethereum.

Semakin banyak jenis token dan semakin banyak DApp serta smart contract yang tercipta, maka penggunaan ETH juga akan semakin banyak dan luas.

Ada satu kelebihan pada ekosistem blockchain Ethereum, dimana terdapat dua jenis token yang dapat diciptakan, yakni token standar ERC-20 dan token ERC-721.

Untuk lebih lengkap mengenai perbedaan ke dua token tersebut, kamu bisa mengunjungi artikel berjudul Perbedaan Token ERC-20 dan ERC-721 Pada Ethereum

PENUTUP

Kemunculan Ethereum memang cukup mengejutkan dan semakin menyadari bahwa fungsi dan penggunaan blockchain semakin luas. Tak heran juga, beberapa orang menganggap Vitalik sebagai sosok “Tuhan”nya blockchain, karena beragam alur dan inovasi pada Ethereum yang tidak sesimpel pendahulunya, Bitcoin.

Jika kamu tertarik dengan ekosistem blockchain Ethereum dan token di dalam ekosistemnya, kamu bisa memulainya dengan membuat akun dompet pribadi Ethereum. Untuk panduan lebih lengkapnya, kamu bisa mengunjungi artikel berjudul CARA MEMBUAT AKUN DOMPET PRIBADI ETHEREUM.

Jadi, bagaimana denganmu, apakah kamu semakin penasaran dengan ekosistem blockchain Ethereum? Atau kamu sudah pusing membaca artikel ini?

Kamu bisa beristirahat sejenak, berkumpul bersama orang–orang terdekat, dan jika masih ada waktu, bisa kembali membaca artikel ini dan artikel lainnya di situs Tahu Blockchain.

Kamu juga bisa bagikan artikel ini kepada orang–orang terdekatmu, agar lebih banyak orang tahu bagaimana blockchain itu bekerja dan tahu Apa itu Ethereum?