Kamu termasuk salah satu orang yang aktif mengunduh aplikasi ponsel, seperti di Google play store atau Apple app store? Apakah kamu sadar, jika sebenarnya, beberapa aplikasi yang kamu unduh itu termasuk dalam kategori aplikasi tersentralisasi? Padahal, ada satu jenis aplikasi lagi loh yang biasa disebut sebagai Decentralized Application atau Aplikasi Terdesentralisasi atau DApp. Lalu apa itu Decentralized Application (DApp)? Apa bedanya dengan aplikasi lainnya yang tersentralisasi?

Sebelum kita masuk ke pembicaraan mengenai Aplikasi Terdesentralisasi atau Decentralized Application, yang selanjutnya akan disebut DApp, ada baiknya kita pahami terlebih model dahulu pendahulnya, yakni Aplikasi Tersentralisasi, atau Aplikasi “saja” tanpa embel–embel desentralisasi. Biasa juga disebut dengan istilah App atau Apk.

Apa itu Aplikasi Tersentralisasi?

Jauh sebelum smartphone merajalela dan aplikasi bertebaran dimana-mana, para pengguna internet biasanya setiap kali ingin mengunjungi website, mengunggah hasil karya atau file, dan/atau membagikan apa saja di internet selalu memulainya dengan mengetik nama alamat website yang akan dituju.

Sebelumnya, disini kita tidak akan membahas mengenai aplikasi atau perangkat lunak yang diciptakan khusus tidak terhubung dengan Internet ya. Aplikasi offline yang dimakasud itu seperti notepad, kalkultator, permainan, atau aplikasi lainnya yang tidak terkoneksi oleh internet.

Jika kamu pernah membaca artikel Tahu Blockchain mengenai Apa itu Ethereum?, pasti kamu akan paham, bahwa segala hal yang telah kamu kirim atau unggah ke dalam jaringan internet, semuanya akan disimpan pada komputer/server milik orang lain. Ketika penggunaan ponsel pintar sudah menjadi hal yang umum bagi mayoritas penduduk Bumi, maka kehadiran Aplikasi semakin mempermudah pengguna untuk mengakses sebuah situs tanpa harus mengetikkan alamat situsnya lagi.

Seperti contoh, jika kamu ingin membuka situs sosial media, kamu tidak perlu repot–repot menuliskan alamat situsnya pada laman browsermu kan? Cukup kunjungi play store atau app store cari nama aplikasi sosial medianya, lalu install, beres. Kapan saja bisa dibuka. Bahkan jika keberatan dengan kapasitas memorinya, tak jarang pemilik aplikasi menawarkan versi ringan atau lite.

Contoh tampilan Google Play Store - Tahu Blockchain
Contoh tampilan Google Play Store – Tahu Blockchain

Tidak hanya itu saja, Bahkan situs yang belum memiliki aplikasi sekalipun seperti situs kita tercinta tahublockchain.com saat ini, kamu masih bisa mengunjunginya tanpa harus repot-repot ketik alamatnya loh.

Kamu tinggal bookmark saja situs ini di perangkat smartphonemu, dengan cara klik tombol titik 3 (biasa di pojok kanan atas layar ponselmu) pilih menu “tambahkan ke layar” (add to homescreen) dan voila, akan tercipta sebuah ikon di layar utama ponselmu. Jadi, jika suatu saat kamu ingin membuka lagi situs ini, cukup dengan mengklik ikon itu saja.

Kira–kira sampai disini, apakah kamu sudah memahami konsep Aplikasi pada umumnya? Jika belum, sederhananya, kehadiran Aplikasi ditujukan umumnya hanya untuk mempermudah pengguna, khususnya para pengguna smartphone menuju situs yang ingin mereka kunjungi, tanpa perlu repot mengetikkan alamat situs yang dituju dan tentunya dengan desain yang lebih menarik dibanding situs utamanya sendiri.

Namun, segala bentuk kemudahan yang diberikan oleh para pembuat dan pengembang produk tersebut, pada akhirnya cukup membuat kita lupa sejenak tentang;

Kemana Data yang Kita Taruh di Internet Disimpan?

Seperti yang sudah disebutkan dalam paragraf ke-5 diatas, dengan kehadiran aplikasi, segala hal yang kita unggah ke internet, menjadi lebih mudah termasuk kemudahan mengungah data pribadi, media, konten, atau data apapun kedalam jaringan internet.

Perbedaan antara menyimpan data secara offline dan online terletak di media penyimpanannya. Ketika kamu menuliskan data pribadi atau daftar riwayat hidup di notepad komputermu, maka data akan tetap tersimpan disitu, dan hanya kamu saja yang memiliki akses untuk membuka dan melihatnya.

Sedangkan hal yang sama jika kita lakukan di situs atau aplikasi yang terhubung dengan internet, maka data kita akan disimpan di server penyimpanan atau data center, juga, data kita akan menjadi database mereka. Dengan demikian, tidak hanya kamu saja yang punya akses untuk melihatnya, mereka yang punya akses juga bisa melirik data-datamu.

Apa itu Decentralized Apps?

Sekarang, mari kita masuk ke dalam bagian DApp. DApp adalah sebuah aplikasi yang yang dijalankan pada jaringan komputer terkoneksi internet yang didistribusikan secara desentralisasi. Konsep DApp sendiri pertama kali digagas setelah ekosistem Blockchain Ethereum hadir terutama pada saat pengenala konsep smart contract.

Dengan hadirnya DApp pada sebuah ekosistem blockchain, maka pengguna tidak perlu repot-repot mensinkronisasikan data pada berbagai macam aplikasi di dalam ekosistem blockchain tersebut.

Ambil contoh pengguna didalam ekosistem blockchain Ethereum, cukup dengan satu akun pribadi atau satu alamat rekening dompet Ether saja, maka pengguna tersebut dapat masuk ke seluruh DApp yang ada di dalam ekosistem Blockchain Ethereum tersebut tanpa harus mencocok-cocokan data secara berulang-ulang.

Contoh tampilah DApp Store milik situs dapp review - Tahu Blockchain
Contoh tampilah DApp Store milik situs dapp review – Tahu Blockchain

Berikut ini salah satu bentuk penerapan untuk mempermudah pemahaman tentang DApp, dengan contoh kasus pasar kripto (crypto exchanger). Dibawah ini ada 3 jenis DApp yang berjalan didalam ekosistem blockchain Ethereum, dan 3 jenis App.

  • Etherdelta (Decentralized Exchange / Dex App)
  • Idex (Decentralized Exchange / Dex App)
  • Uniswap (Decentralized Exchange / Dex App)
  • Indodax (Centralized Exchange / Cex App)
  • Binance (Centralized Exchange / Cex App)
  • Kucoin (Centralized Exchange / Cex App)

Keenam pasar tersebut sama – sama menjual ETH. Namun, perbedaannya terletak pada penjelasan dibawah ini:

  • Jika kamu telah memiliki akun pribadi Ethereum, dengan kamu cukup masuk ke DApp menggunakan Private Key saja, maka semua data keuangan, alur transaksi, dan aset digital di akunmu akan terlacak dan tidak ada perbedaan pada ketiga DApp diatas.
  • Transaksi yang kamu lakukan pada ketiga DApp akan tersinkron satu sama lain. Jika, kamu memiliki saldo 2 ETH dan melakukan penjualan sebesar 1 ETH di Etherdelta, dan ketika penjualan di Etherdelta berhasil, maka secara otomatis saldomu di Idex maupun di Uniswap akan berkurang 1 ETH. Jadi tidak ada perbedaan jumlah saldo ETH.
  • Jika kamu mengunjungi App, baik Indodax, Binance, maupun Kucoin, Akun Ethereummu merupakan akun pasar tersebut, dan masing-masing pasar memiliki akun Ethereum yang berbeda tentunya bukan akun pribadi ETHmu.
  • Kamu tidak akan bisa menggunakan akun pribadi Ethereummu pada App, gantinya kamu akan diberikan akun Ethereum dari pemilik aplikasi. Biasanya setiap pengguna akan memiliki akun Ethereum yang berbeda dengan pengguna lainnya.
  • Data saldo dan asetmu akan berbeda di setiap App tersebut. Misal saldo ETH di akun Indodaxmu sebanyak 2 ETH, maka, belum tentu saldo ETH di Binance atau Kucoin juga sebesar 2 ETH. Andaikata pun sama, itu karena kamu memang menaruh masing–masing sejumlah 2 ETH di ketiga pasar itu. Jadi total sebenarnya kamu memiliki 6 ETH.
  • Seandainya sutau saat salah satu jaringan App mengalami masalah seperti gangguan sistem atau yang terburuk peretasan, maka kamu wajib khawatir akan saldo ETH disana, karena kamu harus menunggu si empunya pasar untuk mengklarifikasi dan membuka kembali akses untuk mengamankan aset kepunyaanmu.
  • Seandainya sutau saat salah satu jaringan DApp mengalami masalah seperti gangguan sistem atau yang terburuk peretasan, maka kamu masih bisa mengaksesnya di pasar DApp lain dan jika saldomu belum dicuri, kamu bisa langsung segera memindahkan aset di akun pribadimu ke akun pribadimu lainnya. Tapi ini akan sulit terjadi karena sistem blockchain yang terdesentralisasi.

Dari deskripsi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa antar sesama DApp, selama masih dalam ekosistem blockchain yang sama, cukup dengan satu akun pribadi saja maka kamu bisa mengakses banyak DApp dan tentu saja semua datamu akan tersinkron satu sama lain.

Produk Apa saja yang bisa dijadikan sebagai DApp?

Selain pasar perdagangan yang sudah dicontohkan diatas, penggunaan DApp bisa diimplementasikan pada aplikasi seperti permainan, sosial media, jual beli aset digital seperti NFT, platform pertukaran lintas blockchain, produk tabungan seperti staking, mining, farming, dll, serta produk taruhan judi juga bisa.

Pada dasarnya, semua aplikasi berpotensi menjadi DApp dengan memiliki ciri-ciri seperti, menggunakan blockchain sebagai bukti jaringan yang desentralisasi, serta menggunakan sistem smart contract sebagai pemutus pihak ketiga alias tanpa perantara.

Setelah Ethereum sukses dengan DApp, tentu saja ekosistem blockchain lainnya tidak mau kalah menciptakan DApp pada ekosistem blokchain mereka tentunya dengan versi sendiri atau ada juga yang mirip satu sama lain dengan produk DApp pada ekosistem blockchain lainnya.

Contoh tampilah DApp Store milik situs dappcom - Tahu Blockchain
Contoh tampilah DApp Store milik situs dappcom – Tahu Blockchain

Meskipun banyak jenis blockchain dan tentunya banyak juga DApp tercipta, walau sebenarnya mirip satu sama lain, pada akhirnya semua akan kembali pada seberapa besar komunitas yang menggunakannya. Layaknya Android yang terus bertarung dengan IOS atau Windows atau Operating System (OS) lainnya di ranah smartphone.

Penggunaan DApp akan masif apabila tampilannya mudah dipahami oleh seorang awam sekalipun. Tidak rumit dalam pengoperasiannya, serta yang paling penting yakni ekosistem Blockchainnya harus jelas, tidak tiba-tiba besok jadi scam. Inovasi juga perlu untuk membedakan dan menjadi sebuah ciri khas sebuah DApp dibanding DApp lainnya yang sejenis.

Dengan DApp, cukup satu akun pribadi saja, maka pengguna bisa mengakses seluruh DApp di dalam ekosistem blockchain tersebut.

Sekarang semuanya tinggal kembali kepadamu, memilih akan masuk komunitas ekosistem blockchain mana? Layaknya seperti kamu mau pilih ingin pakai OS Android atau IOS bukan?

Penutup

Jadi, bagaimana denganmu, apakah tertantang untuk mencoba DApp atau bahkan ingin membuat DApp sendiri? Atau kamu sudah pusing membaca artikel ini?

Kamu bisa beristirahat sejenak, berkumpul bersama orang–orang terdekat, dan jika masih ada waktu, bisa kembali membaca artikel ini dan artikel lainnya di situs Tahu Blockchain.

Kamu juga bisa bagikan artikel ini kepada orang–orang terdekatmu, agar lebih banyak orang tahu Apa itu Blockchain dan memahami apa itu DApp dan bagaimana perbedaannya dengan aplikasi biasa?