Di dunia ini selalu saja ada hal-hal terbaru yang bermunculan. Setiap orang atau kelompok selalu berlomba menciptakan sebuah invoasi untuk sebuah alasan yakni kemudahan, keamanan, dan kenyamanan. Salah satunya adalah kemunculan teknologi yang bernama blockchain. Lalu, Apa itu Blockchain?

Sejarah Uang

Masih ingat pelajaran ekonomi waktu di sekolah dulu, bagaimana cara transaksi pada zaman dahulu kala? Ya, dengan barter. Dahulu kala, ketika manusia belum mengenal uang, mereka melakukan transaksi dengan cara bertukar barang yang mereka miliki. Tentu saja cara ini kurang baik jika diterapkan sekarang, karena nilai dari setiap barang sangat bervariasi dan belum tentu sesuai dengan nilai barang yang akan ditukar nanti.

Lanjut dari barter, sekitar tahun 600 SM, seorang Raja dari Lydia (sekarang bagian dari Turki) bernama Raja Alyattes menciptakan mata uang untuk pertama kalinya. Beliau menciptakan sebuah koin yang dibuat dari berbagai campuran material logam mulia dan dicap dengan gambar tertentu sebagai pembeda nilai pecahan.

Ternyata, koin tidak selamanya efisien, terlebih jika dibawa pergi. Meskipun sampai sekarang masih ada negara, termasuk Indonesia, yang mencetak koin, namun biasanya nila mata uang tersebut sangat kecil dari pada pecahan yang lain. Untuk pecahan lain, tentunya yang lebih besar, maka di ciptakanlah uang kertas atau fiat currency.

Meskipun uang kertas sudah tipis, ternyata bagi sebagian orang uang kertas masih tidak efisien. Apalagi zaman yang sudah masuk ke zaman internet pada saat itu. Akhirnya, muncullah istilah uang elektronik, dimana cukup dengan satu kartu, sudah mewakili isi saldo dalam tabunganmu. Sangat mudah ya?

Namun, kemudahan tersebut juga menjadi incaran empuk untuk para penjahat. Uang elektronik memang efisien, tapi muncul masalah baru. Apakah uang elektronik kita aman? Menjawab pertanyaan tersebut, akhirnya muncullah cryptocurrency atau uang kripto. Diawali dengan kelahiran Bitcoin yang membawa teknologi Blockchain untuk mengamankan Bitcoin.

Apa itu Blockchain?

Blockchain merupakan sebuah buku besar digital yang terhubung melalui internet dimana sistem pencatatannya dilakukan secara otomatis melalui algoritma khusus dengan metode enkripsi kriptografi.

Meskipun hampir mirip dengan platform keuangan digital seperti uang elektronik, karena sama menggunakan internet, Namun yang membedakan adalah sifatnya yang desentralisasi atau decentralized. Desentralisasi itu simpelnya adalah tidak terpusat.

Maksudnya adalah, semua data yang tersimpan dalam jaringan blockchain itu saling terhubung satu sama lain dan saling sinkron dalam jaringannya (node). Contoh kecilnya seperti ibaratnya kamu menyimpan dokumen di komputer pribadi dan ponsel pribadi. Ketika kamu selesai memperbarui data dokumenmu di komputer pribadi, belum tentu data dokumen di ponsel pribadimu juga ikut diperbarui, meskipun komputer dan ponselmu sama-sama terhubung kedalam jaringan internet yang sama.

Sesuai dengan namanya, Blockchain atau dalam bahasa Indonesianya Rantai Blok, menyimpan data-datanya dalam setiap blok. Dalam satu blok ini memiliki kapasitas untuk menampung data. Ketika satu blok sudah terisi penuh dan valid oleh validator, maka selanjutnya akan dlanjutkan dengan blok baru. Simpelnya seperti membuka lembaran baru kalau lembaran yang sebelumnya sudah terisi penuh.

Siapa Penemu Blockchain?

Blockchain ditemukan oleh seorang pseudonymous bernama Satoshi Nakamoto. Ya! Beliau juga merupakan orang dibalik penemuan Bitcoin. Sebenarnya Satoshi tidak secara terang-terangan mengatakan Blockchain. Namun, karena dalam makalah asli Satoshi Nakamoto sering ditemukan istilah “Block” dan “Chain”, maka dipopulerkanlah istilah Blockchain.

Kapan Blockchain Ditemukan?

Blockchain ditemukan tepatnya pada tahun 2008. Seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya, Istilah Blockchain memang tidak secara terang-terangan muncul di makalah Satoshi Nakamoto, namun, istilah blockchain mulai populer di kalangan masyarakat sejak tahun 2016 (sumber wikipedia).

Dimana Kita Menemukan Blockchain?

Saat ini, penggunaan blockchain memang masih mendominasi dalam transaksi mata uang kripto. Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa blockchain juga bisa diterapkan kedalam basis data digital lainnya selain keuangan, seperti pemerintahan, kesehatan, properti, hukum, industri dan sektor lainnya yang berhubungan dengan data.

Blockchain memang identik dengan desentralisasi, namun perlu digaris bawahi bahwa blockchain dalam memproses datanya memerlukan blok untuk menampung transaksinya. Antara blok lama dengan blok baru saling terkoneksi dalam satu rantai, dan diamankan dengan metode enkripsi kriptografi. Itu yang membuat blockchain lebih aman dari hanya sekedar penyimpanan data secara digital lainnya.

Mengapa Kita Menggunakan Blockchain?

Karena selain efisiensi, kita juga butuh keamanan akan data yang kita simpan di Internet. Seperti yang kita tahu, semua data yang disimpan didalam internet tidak selamanya aman. Apalagi, data kita disimpan oleh satu server pusat yang bisa mengatur data penggunanya kapanpun.

Teknologi Blockchain hingga saat ini masih menjadi tekonologi teraman dalam mengelola data. Dengan sistem blok yang dimiliki Blockchain, seorang peretas harus membobol blok dalam rantai sebelumnya terlebih dahulu baru bisa membobol blok yang ingin diretas. Andaikata blok yang ingin diretas ternyata sudah memiliki blok pada rantai setelahnya, maka peretas selain meretas blok sebelumnya, juga harus membobol blok setelahnya.

Tidak cukup sampai di pembobolan bloknya saja. Karena blockchain merupakan teknologi basis desentralisasi, maka seandainya peretas berhasil membobol seluruh blok, mereka juga harus bisa membobol dan memanipulasi salinan data blok dalam jaringan lain yang terknokesi dengan blok yang saat ini sedang diretas. Ribet kan?

Itulah mengapa blockchain lebih familiar dalam sektor keuangan, atau segala aspek yang menyangkut dengan uang. Dengan blockchain, jumlah uangmu jelas, berapa yang kamu miliki, kapan saja kamu melakukan transaksi, entah transaksi dari berapa tahun yang lalu pun. Dan tentu saja, uang yang kamu miliki sepenuhnya milikmu, tidak bisa orang lain dengan seenaknya menambah atau mengurangi saldo dalam rekening uang kriptomu.

Dari kejelasan itu juga, blockchain mengedepankan istilah transparansi. Meskipun transparan tidak semua informasi tentangmu akan dipaparkan. Seperti nomor rekening atau wallet address yang bersifat pseudonymous atau samaran saja, tidak seperti anonymous yang benar-benar anonim. Jadi, kamu tidak perlu khawatir orang akan tahu berapa besar jumlah saldomu di rekening selama kamu tidak menyebarkan informasinya.

Ada juga istlah blockchain privat. Istilah ini digunakan untuk blockchain dengan syarat dan ketentuan, dalam artian, hanya orang tertentu saja yang dapat mengakses dan melihat data-data yang ada. Selain itu terdapat juga hak dan larangan khusus kepada pihak yang ingin bergabung. Memang, meskipun ada unsur blockchainnya, namun blockchain versi ini lebih ke arah tersentralisasi.

Bagaimana Blockchain Bekerja?

Transaski yang terjadi pada Jaringan Ethereum. (Sumber: Etherscan)
Transaski yang terjadi pada Jaringan Ethereum. (Sumber: Etherscan)

Mari kita mulai dengan contoh kasus kecil antara A, B, C, D, E, F, G, dan H:

  • A transaksi ke B
  • C transaksi ke D
  • E transaksi ke F
  • G transaksi ke H

Transaksi A ke B, dan C ke D yang terekam selanjutnya diibukukan, dan dimasukkan kedalam antrian transaksi. Kemudian, oleh validator akan diilakukan pengecekan transaksi. Ketika pencatatan berhasil dan valid, kedua transaksi tersebut akan dienkripsi dan dimasukkan ke dalam blok bernama Blok 1. Istilah penamaan block ini dinamakan sebagai Block Height.

Berikutnya, E melakukan transaksi ke F, dan G ke H. Kebetulan, karena pada blok 1 sudah mencapai batas limit tampung, maka setelah di verifikasi oleh validator, Transaksi antara E dan F, juga G dan H akan dimasukkan kedalam blok berikutnya pada block height dengan nama blok 2.

Jika melihat contoh di atas, terdapat 4 buah transaksi. Keempat transaksi tersebut akan menciptakan kode transaksi unik yang hanya berlaku pada transaksi tersebut. Inilah yang dinamakan sebagai hash. Jadi akan seperti ini:

  • Transaksi A ke B = Kode Transaksi AB
  • Transaksi C ke D = Kode Transaksi CD
  • Transaksi E ke F =  Kode Transaksi EF
  • Transaksi G ke H = Kode Transaksi GH

Ketika suatu saat nanti A kembali melakukan transaksi ke B, maka hash yang tercatat akan menjadi AB1, bukan AB lagi. Kode transaksi ini akan berupa link, bisa bersifat publik maupun privat, yang bisa dilacak oleh siapa saja (jika bersifat publik), dan bisa dilacak oleh pihak tertentu (jika bersifat privat).

Ketika kamu ingin melihat hash AB, kamu akan diberikan informasi bahwa pada tanggal sekian, A dan B sedang melakukan transaksi, lengkap dengan berapa nominalnya dan informasi lainnya yang berhubungan dengan transaksi antara A dan B.

Sebelumnya, kita sempat membahas tentang Block Height seperti Blok 1 dan Blok 2, apa maksudnya itu? Anggap saja blok itu di ibaratkan sebagai kapasitas penampungan, atau bisa di bilang baskom. Jika satu baskom, misalnya, hanya bisa menampung 2 liter air, Otomatis ketika ingin menampung 3 liter air, kita mesti memiliki baskom kedua bukan?

Ada banyak sekali proyek yang menggunakan ekosistem blockchain. Meskipun proyek itu sama-sama desentralisasi dan blockchain, Namun masing-masing ekosistem memiliki peraturannya sendiri, termasuk peraturan mengenai kapasitas penampungan suatu blok dalam menampung hash transaksi.

Ada blok yang hanya mampu menampung sampai 2 mb data, ada juga yang lebih besar dari 2 mb data. Diibaratkan contoh sebelumnya, jika setiap transaksi memiliki kapasitas 1 mb, maka setiap blok hanya akan dapat menampung sebanyak 2 jenis transaksi saja. Oleh karena itu, dari keempat contoh transaksi diatas, hanya akan tercipta 2 blok saja, yakni Blok 1 dan Blok 2.

Blockchain Bitcoin Explorer - Tahu Blockchain
Bitcoin Explorer – Tahu Blockchain

Prinsip block height ini juga sebagai contoh gambaran bagaimana susahnya peretas yang mencoba untuk mengubah data. Menjadi semakin sulit karena antar block height dalam blockchain saling terhubung satu sama lain. Ibaratnya, Blok 2 tidak akan ada kalau Blok 1 belum tercipta. Selanjutnya, untuk membuat Blok 3, tentu harus memerlukan sahnya blok 2 dan blok 1.

Jadi, jika kamu ingin bercita-cita meretas sebuah jaringan blockchain, dan anggap saja kamu ingin meretas dan mengganti transaksi B ke C (Blok 1), hal yang pertama harus kamu lakukan adalah dengan meretas terlebih dahulu Blok 2, karena syarat untuk membuat Blok 2 adalah validnya Blok 1. Seandainya jumlah blok setelah blok 1 ada 1000 blok, maka kamu harus meretas 999 Blok setelah Blok 1 supaya bisa mulai untuk meretas Blok 1.

Anggap saja blok ini adalah kardus yang ditumpuk vertikal sebanyak 1000 buah. Jika kamu ingin mengambil kardus 1 (paling bawah), maka kamu harus menata ulang kardus-kardus di atasnya bukan?

Balik lagi ke topik. Andaikata pun kamu bisa meretas Blok 2, hal selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah meretas salinan data (backup) data Blok 2 lainnya dari setiap validator dalam jaringan tersebut. Jadi, misalkan dalam satu jaringan blockchain ada 200 validator, maka kamu harus meretas dan menyamakan ke-199 salinan data Blok 2 setiap validator, supaya data Blok 2 yang kamu retas tersebut datanya valid dengan data salinannya.

Jika data Blok 2 yang kamu retas tidak sama dengan salinan-salinannya, maka sudah dipastikan Blok 2 yang kamu retas termasuk kategori berbeda, dan oleh jaringan lainnya akan dinyatakan salah, sehingga tidak valid. Andaikata pun kamu berhasil lolos meretas data Blok 2 dan seluruh salinannya, hal yang harus kamu lakukan selanjutnya adalah meretas transaksi dan blok dari Blok 1, sama seperti sebelumnya.

Penutup

Mungkin bagi sebagian orang, mendengar kata blockchain pasti langsung menyamakannya ke Bitcoin. Sebenarnya tidak salah juga, karena bitcoin memang termasuk didalamnya. Pada dasarnya, blockchain dapat diterapkan dalam berbagai sektor yang berhubungan dengan data dan transaksi.

Hal ini karena teknologi blockchain pada dasarnya sama dengan teknologi penyimpanan data berbasis internet lainnya. Dan juga faktor privasi mempengaruhi apakah semua data layak untuk dipublikasikan atau tidak. Blockchain lebih cocok untuk data yang bersifat publik antara kedua belah pihak yang saling menyetujui. Hal ini demi meminimalisir kecurangan dan/atau gangguan yang akan terjadi dimasa depan.

Jadi, bagaimana denganmu, sudah siapkah menerima teknologi blockchain dan ingin belajar lebih dalam tentang blockchain? Atau kamu sudah pusing membaca artikel ini?

Kamu bisa beristirahat sejenak, berkumpul bersama orang–orang terdekat, dan jika masih ada waktu, bisa kembali membaca artikel ini dan artikel lainnya di situs Tahu Blockchain. Kamu juga bisa bagikan artikel ini kepada orang–orang terdekatmu, agar lebih banyak orang tahu Apa itu Blockchain?